Akar Bambu

akar bambu cover-01.jpg

Artwork & Logo Akar Bambu designed by Yoga Prathama

Pada suatu siang, di ujung pematang

Terduduk dengan bimbang, sang caping usang

 

Datang menghampiri, sesosok bocah kecil

Tangan dengan kendi dan juga baki

 

Wahai nak sang bocah kecil duduklah dekat kakekmu

Mari makan bersama Kakekmu ingin, menatap bening, cahya matamu

 

Jika suatu nanti, kakekmu tlah pergi

Siapa yang akan menanam padi?

 

Jika suatu nanti engkau telah dewasa, hijaukah tanah ini?

Suburkah tanah ini?

Masihkah tanah ini?

Soedirman Soedjono (1) – Akar Bambu

Aksi Karya Barisan Masyarakat Budi Utomo atau lebih dikenal sebagai AKAR BAMBU, merupakan sekelompok seniman dan para pegiat muda lingkungan, pertanian yang membawa semangat kesederhanaan dalam kebangsaan. Kepedulian dan kecintaan terhadap tanah air dapat kita rasakan setelah mendengarkan alunan dan racikan lirik yang dituangkan ke dalam lagu-lagunya. Secara simbolik, AKAR BAMBU memiliki makna kebersatuan, selayaknya akar bambu yang berupa serabut-serabut kecil yang saling mengikat dan menggenggam erat tanah yang berada di sekitarnya. Sehingga setinggi apapun bambu yang tumbuh di atasnya, akarnya akan tetap kokoh menjaga gagah berdirinya sang bambu.

Pada mulanya AKAR BAMBU memiliki tujuan luhur yang dimaksudkan sebagai sebuah gerakan baru untuk mendorong upaya “menyembuhkan” Indonesia, menyembuhkan disini berarti mengembalikan nilai-nilai kearifan lokal di dalam lingkup sosial dan interaksi antar manusia dan juga alamnya. Sehingga kualitas interaksi antar individunya dapat berbuah dan saling berbalas kebaikan.

Ragam cerita dan sudut pandang yang di-elaborasikan ke dalam karya musik AKAR BAMBU menggambarkan ke-bhineka-an Indonesia sebagai negeri yang kaya akan alam dan budayanya. Cerita-cerita nyata dibalik pengalaman sang penulis lagu dihidupkan kembali di dalam lagunya. Menlantunkan nada dan perilaku keseharian yang seharusnya santun dan harmonis di tengah keberagaman yang sedang diuji saat ini. Nafiri Nusantara dijadikan judul dari album perdananya yang berarti “terompet persatuan”, yang dulunya digunakan Patih Gajah Mada untuk mempersatukan pasukannya saat terompet itu dihembuskan dengan gagahnya. Ragam dan persatuan, Bhineka Tunggal Ika menjadi sebuah pengikat keberagaman cerita yang ada di dalam album AKAR BAMBU.

Akar bambu dengan segala keterbatasannya berupaya menyerap, memaknai, menerjemahkan dirinya sebagai nafiri. Menjadi medium amplifier sekaligus resonan. Menuntun kembali Indonesia ke arah gemah ripah loh jinawi sebenarnya.

Kalian bisa mendengarkan lagu-lagunya disini:

Jalang Tapi Sayang

IMG_8965.JPG

Salahmu sendiri mau diperkosa ibukota!
Disuruh ngangkang ditusuk dari belakang demi uang

Salahmu sendiri mau jual diri!
Cuma untuk beli imitasi buat naikin gengsi

Salahmu sendiri mau hidup ngawur!
Kerja lembur babak belur, buang-buang umur

Salahmu sendiri mau menderita!
Mondar mandir cari cinta, tapi hati sendiri buta

Salahmu sendiri masuk neraka!
Merasa paling beragama, tapi nggak punya tata krama

Salahmu sendiri lupa jalan pulang!

Pulang, sekarang, kalau nanti, keburu sayang.

Jakarta, 9 Juli 2017

Sudahkah Anda Buang Hajat Dengan Beradab?

Screen Shot 2017-07-10 at 21.05.05.png

Melihat banyaknya (dan hampir sebagian besar) toilet umum dengan kondisi yang kotor dan rusak fasilitas dan fungsinya, jadi mengingatkan gue sama kondisi timeline di sosial media, dengan kualitas “buang hajat” yang luar biasa ancurnya. Sembarangan, jorok, berantakan, berisik, bau, udah gitu nggak bayar!

Banyak yg nggak sadar kalau masih ada orang yang bakal ngegunain fasilitas itu juga setelahnya. Sesedikitnya kecium lah dikit bekas-bekasnya. Lah ini apa kabar yang nggak disiram? Yang cebok di ember langsung? Yang meper-meper ke tembok? KAN JIJIK.

Terus ada yang nyaut “Mau bersih mah di rumah sendiri aja pup-nya!”, lah bersih harusnya tanggung jawab bersama mas! Nyaut aje lu. Fungsinya toilet umum yang bersih kan sebagai pengganti toilet rumah yg sedang tidak terjangkau. Sama aja kaya komen, kritik, saran, dan sharing konten di socmed. Kalo asal jeplak, kan bau. Timeline akuh jadi kotor. Makanya gue bersihin yang jorok-jorok, supaya se-enggak-nya we bisa pup dengan tenang disini.
Pup lah dengan beradab, lalu cebok. Terserah menggunakan tangan yang mana, asal bersih, disiram, dan cuci tangan setelahnya. Jangan cuci tangan/kaki di ember, karena air yang ditampung diperuntukan bagi pengguna selanjutnya untuk membilas bagian-bagian lain yang perlu dibilas dengan air yang bersih. Buanglah hajatmu dengan penuh tanggung jawab. Hajatmu tanggung jawabmu sendiri. Seperti apapun yang juga kamu keluarkan dari cocotmu itu.

#saveWCumum #saveyourself