Atas Nama Pasar C & D

INI BUKAN MOVIE REVIEW.

Karena banyak orang yang salah tanggap terhadap tulisan ini, saya harus memberikan sebuah intro yang akan menjelaskan "isi" sebenarnya tentang tulisan di bawah ini.

Tulisan ini berisi tentang respon saya setelah membaca review film Warkop DKI Reborn oleh Rolling Stone ( bisa dibuka di link yang saya sertakan di bawah tulisan ini ). Didasari oleh rasa muak dan lelah melihat industri perfilman mainstream Indonesia. Baik yg di TV lah, yang di bioskop lah. Sulit mencari wahana hiburan yang menyegarkan di negara sendiri. So sad.

Buat para fans yang suka sama Warkop DKI Reborn atau apapun film lokal yang menurut kalian bagus di jaman sekarang ini, Saya mengucapkan selamat! Kalian semua telah terhibur. While saya dan beberapa orang yang juga ngerasa hal yang sama masih belum terpuaskan sama hasil dan kualitas industri kreatif Indonesia jaman sekarang, dan saya menyuarakan apa yang ada di kepala.

Sekali lagi saya tekankan INI BUKAN REVIEW FILM. Ini pandangan saya terhadap industri yang katanya KREATIF di Indonesia.

Manis jangan lekas ditelan, pahit jangan lekas dimuntahkan.

Peribahasa di atas mungkin bisa mewakilkan hal-hal yang terkandung di dalam tulisan saya ini. Baca dulu aja, kalo cocok mungkin bermanfaat, kalo nggak cocok, ya nggak usah ditelen bulet-bulet. Ini isi kepala saya aja kok.

Sekian, dan selamat membaca.

Cukup menyedihkan setelah baca review yang ditulis oleh mas Ivan M. di laman Rolling Stone. Saya jadi teringat betapa sulitnya saya dan teman-teman ( mungkin kami hanya segelintir kecil ) untuk mencari hiburan berkualitas saat ini. Ironisnya, industri yang katanya kreatif ini sedang giat-giatnya produksi. Semestinya hal ini bisa membawa angin segar menjanjikan dengan banyak bermunculan film baru, namun sayangnya diantara produk-produk ini banyak yang kurang gizi-nya.

Coba kita ambil contoh film-film remake yang sedang ramai di tahun 2016 ini. Kita ambil satu judul: Warkop DKI Reborn. Siapa yang tidak pernah mendengar grup lawak legendaris yang di anggotai oleh Dono, Kasino, dan Indro tersebut? Mungkin harusnya lebih baik mereka bikin film documentary atau biografi tentang perjalanan karirnya, bukan re-act, remake, atau daur ulang. Kita belum cukup sadar dengan kemampuan industri yang katanya KREATIF itu men-daur ulang hal-hal yang tidak semestinya di daur ulang.

Lagu? Tiap tahun ada aja yg nge-cover ulang lagu2 lama, dari jaman Titiek Puspa sampai Sheila on 7 udah pernah di-cover. Nggak ada yg berhasil nyangkut di kuping. Tapi tetep aja ada yg re-cycle. Mungkin karena lg rame-ramenya go green kali ya? Akhirnya latah daur ulang, re-make sana re-make sini.

Sebelum kita ngomongin kekaryaan, kita lihat dulu dari gimana orang-orang Indonesia mengolah sampah. Hasilnya: berantakan. Yang bisa di-daur ulang dicampur sama sampah yang sifat ke-sampah-an-nya lebih kekal, jadinya menumpuk lebih banyak sampah dan butuh beberapa proses lagi sampai akhirnya malah lebih banyak sampah yg diproduksi daripada hasil daur ulangnya. Melakukan hal yang sia-sia.

Tanpa mengkategorikan film ini menjadi kategori sampah yang mungkin harus diselamatkan. Well sejujurnya saya juga belum nonton dan nggak tertarik buat nonton. Sama sekali nggak tertarik dari awal nonton trailer dan liat sinopsisnya, so sorry. Dan mengenai tulisan ini, saya nggak akan fokus untuk me-review film ini kok, ini bukan tentang itu.

Tapi sejujurnya sebagai penonton Warkop DKI OG bakal membiarkan mereka menjadi legenda dan menjaga nilai-nilai orisinalitasnya. Saya bakal bisa lebih mengapresiasi jika film yang dibuat dan ditayangkan sekarang berupa film dokumenter atau biografi dari grup legendaris ini, karena bakal banyak informasi yang bisa kita dapatkan juga pelajari. Disamping itu, kita juga kekurangan dokumentasi dan archiving karya-karya lama industri kreatif lokal.

Biarkan para penerusnya dan konsumen tau bagaimana proses yang mereka lalui sampai akhirnya mereka pantas diberikan gelar legenda atau menjadi panutan bagi penerusnya. Karena proses yang didokumentasikan + perspektif yg kita punya di jaman sekarang seharusnya bisa menjadi sebuah referensi dan stimulus buat otak-otak kreatif anak bangsa untuk berkarya sesuai pada jamannya. Membuat sesuatu yang sifatnya aktual, bukan sekedar daur ulang. Ini juga terjadi di dalam remake “Ini Kisah Tiga Dara”, pada akhirnya saya lebih jatuh hati sama film aslinya yang sudah direstorasi.

Kita kekurangan pengetahuan, bukan hiburan. Atau lebih tepatnya kita kekurangan hal-hal yang memiliki “isi”, namun tetap bisa menghibur dan membawa lebih banyak hal-hal positif. Bukannya malah karena terlalu banyak sampah sampai akhirnya hanya itu yg bisa dijadikan bahan tertawaan/hiburan.

Kreatifitas menjadi kurang gizi. Otomatis lawakan dan komedi menjadi dangkal, semuanya hanya pada permukaannya, hanya pada kulit terluar, fisik. Makanya lawakan kita banyaknya cuma ngeledekin orang, nge-bully karakter yang bentuknya paling ajaib, ngejelek-jelekin diri sendiri, bahkan cenderung seksis atau rasis. Seperti yang tertulis Mas Ivan di review-nya, komedi itu seharusnya berangkat dari logika yang dibengkokkan. Kalau logika dan creative thinking-nya aja belum ada, gimana mau bikin jokes berkualitas? Kalau kita membiarkan hal-hal ini terjadi terus, kapan majunya kita?

Spirit yang salah di jaman yang salah. Melahirkan nilai-nilai yang salah. Semua hal yg di-remake jaman sekarang memiliki cita rasa yang sama. Yaitu: “gue juga bisa”. Spirit ini terkesan memudahkan banyak hal tanpa memikirkan berbagai aspek yang seharusnya menjadi formula, dan resep spesial setiap kreator. Spirit ini melahirkan mental generasi muda yang selalu merasa bisa berbuat lebih baik tanpa memikirkan lebih jauh tentang nilai yg terkandung di masa lalu, ini jelas-jelas merusak rasa asli yg terkandung di dalam cerita atau karya asli seseorang. Semuanya terlihat seperti adegan reka ulang TKP, dimana karakter hanya diilustrasikan menggantung di leher seseorang yang memerankannya. Atau dimana lagu cover hanya terdengar seperti rekaman karaoke anak ABG yang baru kesurupan EDM.

Di dalam dunia bisnis, para pakar bisnis profesional dipastikan memiliki pertimbangan ini: “angka di market kelas C dan D lebih banyak, makanya kita bikin industri ini buat mereka”, nggak salah kok, bener banget malah, kan cuma bisnis. Tapi kalo mau bicara soal kualitas, dan siapa yang bertanggung jawab sama bobroknya kualitas industri kita? Ya mereka yang membuat skala kualitas industri kita jadi kaya gini yang seharusnya bertanggung jawab. Orang-orang yang katanya menguasai market tapi nggak mengedukasi sama sekali. Istilahnya TV jaman sekarang cuma jadi “tontonan pembantu”. Terus anak-anak nonton apa? Yang butuh hiburan nonton apa? Dangdut? Rajawali 3d? Apa nggak jahat kalo namanya kalau secara konten aja kita dibodohi?

Market bisa diedukasi, kalau orang-orang yang punya kesempatan dan berkepentingan di atas sananya mau concern buat mikirin konten. Tapi kan yah sadar aja belum, gimana mau peduli? Mereka lebih mementingkan angka tiket yang terjual atau rating di TV dibandingkan harus memikirkan nilai-nilai baik yang harusnya mereka bisa sampaikan. Atau ada juga yang ujung-ujungnya menjadikan stasiun TV miliknya menjadi media kampanye diri sendiri. Hal ini berakhir kepada orang-orang yang sudah lama kecewa dan meninggalkan stasiun TV dan film-film lokalnya.

Mungkin ini saatnya kita mengeheningkan cipta lebih dalam, terus mikir. Karena kita butuh tunduk dan merenung untuk sadar arti sesungguhnya dari kata PENGHORMATAN. Atau mungkin sedikit menundukkan kepala bisa membuat kita belajar untuk TAHU MALU dulu biar nggak malu-maluin.

*mengheningkan cipta*

xx

Standar Bukan Standard

Permasalahan memaknai kata “standar”. Standar apa yang seharusnya dipakai untuk memberikan sebuah penilaian? Estetik? Fungsi? Efisiensi? Budget? Atau memang pemahaman tentang value-nya aja yg memang nggak ada?

Pada harfiahnya standar itu merupakan ukuran tertentu yang dipakai sebagai patokan, atau dalam sosial maknanya merupakan ukuran untuk memiliki, meneliti, dan memilih sikap yg sebaik-baiknya untuk dipergunakan.

Ada pula makna lain dari kata standar yang memiliki pemahaman dr kacamata yang lebih “sinis” adalah: ketidakmampuan/ke-tidak-mau-an untuk mencapai dan melebihi kualitas yang lebih baik, cukup pada “standar”-nya. Standar disini bahkan bermakna berada di bawah nilai rata-rata bagus.

Kacamata dan realita siapa yang digunakan oleh bapak2 Angkasa Pura ini? Standar masyarakat yg hidupnya di bawah garis kemiskinan? Atau memang standar bagus dan baik di Indonesia yang sudah rusak karena orang-orang yang harusnya sibuk memikirkan standarisasi hidup layak di negara sendiri malah repot memperkaya dirinya sendiri?

Nggak dosa kok kalo kita meminta kepada bapak-bapak di atas untuk memberikan standar yang bagus untuk masyarakatnya. Masalahnya bapak-bapak apa sadar betul arti dan bentuk dari sesuatu yang bernilai bagus?

TIDAK.

Itu tamparan terbesar buat kami ini yang protes meminta perbaikan nilai di sana sini. Karena orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memperbaikinya saja kebanyakan nggak ada nilainya. Nggak ada yang bener-bener ngerti soal estetika fungsi dan efisiensi. Apalagi mau diajak debat soal seni dan budaya modern? Yang mereka inget cuma nomer rekening mereka sendiri.

Ya itulah standar hidupnya kebanyakan orang berkuasa jaman sekarang. Semakin tinggi semakin ingat angka, lupa maknanya.

Stop Being Right

Semua orang ingin bicara, semua orang ingin didengar. Semua orang ingin BENAR.

OK stop disitu. Karena kalimat terakhir terdengar egois. Ya semua orang memiliki kebutuhan untuk menyampaikan dan melakukan apa yang menurut hati dan kepercayaannya BENAR.

Semua orang melakukan yang ter-BAIK untuk hidup mereka.

Kalimat di atas kali ini terdengar lebih positif dan tidak egois. Penuh harapan, dan mengusung nilai perjuangan atas nilai-nilai kehidupan. Yang seharusnya bermakna nilai-nilai kebaikan.

Ya nilai dan kebaikan.

Tapi untuk siapa?

Diri sendiri? Sekelompok kaum atau umat? Atau kebaikan bersama? Bersama disini berarti tak terbatas. Bersama dalam kesatuan, bersama dalam perbedaan.

Sudah ada kah yang melakukan kebaikan untuk kebersamaan? Bukan sekedar kebaikan yang terbalut oleh kepentingan pribadi maupun segelintir umat semata. Cukup sadarkah kita akan keberadaan orang-orang yang berbeda di sekitar kita saat kalian atau sekumpulan kalian bergerak berdasarkan kebutuhan untuk meneriakkan “KEBENARAN” itu ternyata menggeser atau mengganggu kepentingan orang lain yang memiliki kepentingan lain disaat yang sama. God only knows.

Disaat kita bergerak dengan tujuan untuk MENANG, bukan sebagai PEMENANG sejak awal, maka kita sudah dikalahkan oleh hasrat kita untuk menang sejak langkah pertama.

Mentalitas ini menjadi masalah bangsa ini. Maka dari itu provokasi dan hasut menyebar dengan mudah ibarat virus flu. Karena mental “kalah” ini akhirnya daya imun hati dan pikiran manusianya rusak, dan menyebabkan kotoran-kotoran dan penyakit dengan mudahnya masuk cuma melalui layar smartphone pribadinya, berita online, stasiun TV murahan, gosip, atau bahasan grup chatting teman-teman sekolah/kantor-nya. Yang seringnya berisi kebencian, fitnah, dan berita-berita buruk. Kita menghilangkan kebaikan yang seharusnya ada, dan termakan menjadi benci, dendam, marah, menjadi buta, dan kita semua berteriak, karena hati kita telah KALAH.

Saya salut kepada orang-orang yang menyempatkan dirinya, mengeluarkan energinya untuk memperjuangkan apa yang menurutnya BENAR.

Selamat atas perjuangan dan semangatnya. Semoga melahirkan kebaikan.

Coba sekarang kita memikirkan arti dari kata-kata ini: “kebaikan bersama”.

Apa yang kira-kira bisa kita lakukan untuk kebaikan bersama? Kita coba buat study case kebaikan apa yang bisa kita buat dari pendemo 4 November 2016 lalu yang katanya jumlah rata-ratanya mencapai 100 ribu orang itu.

1. Membersihkan Jakarta dari sampah
1 orang 1 square meter, Luas Jakarta 661.5 sqm. Kalo satu orang butuh waktu 1 sampai 2 jam untuk membersihkan bidang 1x1m, mungkin hanya dibutuhkan kurang dari 1 jam saja untuk membersihkan sampah di seluruh jalan di Jakarta.

2. Zakat massal
1 orang menyisihkan 10.000 rupiah ( nominal yang cukup make sense dikeluarkan buat ongkos sehari-hari atau buat beli minuman kemasan 1 hari ). Kalau 100.000 x 10.000 rupiah = 1 miliar rupiah, kayanya tiap hari kita bisa kumpulin 1 miliar, dan dalam 30 hari jadi 30 miliar. Kalau setengah dari penduduk Jakarta ( sekitar 5 juta penduduk ) yang nyumbang, bakal ada 50.000.000.000 rupiah per-harinya. Nominal ini bisa kasih makan setengah penduduk Jakarta lainnya, atau membangun sarana dan fasilitas yang mungkin terlalu lama terealisasi jika kita hanya berteriak dan menunggu pemerintah mendengar teriakan kita.

3. Membantu orang lain
Tidak butuh uang untuk menolong orang. Jika ada 100.000 orang yang bersedia untuk menolong 1 orang yang membutuhkan bantuan, maka akan ada 100.000 orang lainnya yang akan merasa tertolong. Dan bayangkan kelipatannya jika semakin banyak lagi orang yang terlibat!

Hanya 3 ide sederhana yang terlintas sejenak tanpa membutuhkan waktu dan tenaga untuk dibuang-buang, namun ternyata efeknya sangat luar biasa. Luar biasanya saat kita menghilangkan KEPENTINGAN di atas kebaikan. Bayangkan jika seluruh masyarakat Jakarta menuaikan visi tentang kebaikan. Akan ada 5.000.000 kebaikan baru tiap harinya, dan bayangkan berapa banyak kebahagiaan yang ada dan menular tiap harinya?

Akan selalu ada cara yang lebih baik dibalik marah dan protes, dibalik kepentingan, dan di setiap desak tindakan yang seharusnya kita perjuangkan setiap harinya. Akan selalu ada kebaikan di atas perbedaan jika kalian cukup sadar bahwa tidak satu detak jantung-pun di hidup kalian diperuntukkan untuk kalian sendiri saja.

If you willing to do good, do good for no reason. Kindness need no reason.